Rabu, 03 November 2010

Banyak Buku Karl May Diselewengkan - (Majalah Tempo)

Sosok Karl May tak pernah lepas dari petualangan. Melalui tulisannya, pria asal Jerman ini menjelajah sampai ke Amerika dan negeri Timur yang eksotis melalui tokoh rekaan Charley, yang kemudian dijuluki Old Shatterhand, dan Kara Ben Nemsi.
Dua tokoh yang mewakili fungsi narator dengan julukan "Aku" itu ternyata mewakili diri Karl May sendiri. Nama Charley merujuk nama Karl dan Kara Ben Nemsi berarti Karl si Anak Jerman. Ini terungkap dalam diskusi Karl May dan Dunia Luar yang Eksotis, dengan pembicara Pandu Ganesa, di Teater Utan Kayu, Selasa (12/6) malam.

Di tangan Pandu, penggemar berat Karl May itu, ulasan tentang diri Karl May menjadi sangat luas. Bahkan, pria yang hanya mau disebut sebagai pengusaha swasta di bidang agrobisnis dan manufaktur ini sampai membawa 76 buku tentang Karl May dalam berbagai versi bahasa. "Setidaknya bisa mewakili versi asli cerita Karl May dari bahasa Jerman," ujar Pandu pada Koran Tempo.

Tak heran, Pandu hanya mau menerjemahkan buku tentang Karl May yang diterbitkan Kritisch Historisch Ausgabe (KHA) dari Jerman, yang sebentar lagi akan diterbitkan oleh Kepustakaan Gramedia Populer (KPG). KPG akan menerbitkan tiga buku tahun ini, yaitu Dan Damai di Bumi, yang mengisahkan tentang perdamaian dan antimiliterisme di Aceh, Di Samudera Pasifik, dan tulisan Pandu tentang Karl May.

"Penerjemahan Dan Damai Di Bumi akan menjadi sejarah, setelah 100 tahun akhirnya adanya buku terjemahan langsung dari naskah asli Karl May ke bahasa Indonesia. Karena selama ini, yang kita baca itu, cerita tentang Karl May dari edisi Belanda," kata pengusaha yang mengelola situs Wigwam (http://karlmay.hypermart.net) itu.

Di luar tiga buku itu, menurut Pandu, masih menunggu 38 dari total 40 buku utama Karl May yang sebenarnya perlu untuk dibaca. Dari 38 buku itu, yang terpenting adalah trilogi Winnetou yang menurut Pandu harus dibaca pertama kali sebelum membaca karangan Karl May lainnya. Kemudian ada Di Tanah Mahdi (sebanyak tiga judul yang diterjemahkan dari Im Lande des Mahdi) dan Seri Timur yang terdiri atas enam buku. Di serial-serial inilah nama Karl May sangat popular, tak hanya di Jerman, tapi di pelosok dunia lainnya.

Kepopuleran Karl May dibuktikan Pandu lewat cerita-cerita kocak yang didapatnya dari berbagai media luar negeri yang mengulas tentang penulis yang lahir di Saxonian, Jerman, tahun 1842 itu. Sosok kaum kulit putih Amerika yang selalu menjadi tokoh antagonis dalam cerita Winnetou, membuat banyak orang Jerman mempunyai perasaan negatif terhadap orang Amerika. Selain itu, banyak terdapat klub-klub Indian di Jerman dan mereka sangat menguasai geografi Amerika Serikat bagian Barat Daya, terutama daerah Llano Estacado, kendati kenyataannya tak seperti yang tergambar di buku Karl May.

Penguasaan geografis memang menjadi kelebihan Karl May, kendati sebagian besar ia hanya mempelajarinya lewat literatur. Selebihnya, May hanya mengandalkan imajinasinya. Pendekatan ini lebih banyak dilakukan May saat ia menulis Seri Timur. Ia banyak mengambil dari catatan perjalanan para penjelajah, yang terutama memasuki wilayah Kurdistan. Selain itu, May mempunyai ratusan referensi berasal dari jurnal harian, mingguan, dan bulanan. Tak lupa, May mempelajari Al Quran dan belajar membaca huruf Arab dan Turki. Untuk tulisan-tulisannya tentang ilmu tumbuh-tumbuhan yang banyak digunakannya di seri ini, May menggunakan buku botani abad ke-15. Pengetahuannya yang luas tentang dunia Islam ditemukan May dari tulisan-tulsian Barth, Petermann, dan C Snouk Hurgronje.

Kendati demikian, May tak luput dari kesalahan. Ini ditemukan saat ia mencampuradukkan istilah "haji" dan "umroh". Juga dalam kata "Giaour" yang menurutnya berarti "kafir" untuk merujuk orang yang tak beriman atau bukan muslim. Sayangnya, setelah diruntut asal muasalnya, kata itu berasal dari Turki yang banyak diucapkan orang Arab.

Di sinilah, menurut Pandu, diperlukan kehati-hatian saat menerjemahkan karya May untuk negara yang mayoritas beragama Islam. Banyak ungkapan-ungkapan yang diambil May tanpa pikir panjang, yang oleh orang Islam bisa dianggap menghina. Ini nampak dalam kutipannya di cerita Menjelajah Gurun (1892). Ketika pembantu si narator sedang meyakinkan kepada tuannya untuk beralih ke Islam dimana surga tempat mengalir susu, anggur, kopi, dan madu tiada henti, dengan enteng narator membatin, "Meskipun deskripsi tentang konsep surga ini menawan, saya harus mencatat bahwa Muhammad mengambil penggambaran Kristen dan dibentuk ulang untuk konsumsi Badui nomad".

Atas kasus ini, Pandu menanggapi dengan enteng pula bahwa ketidakmengertian ini wajar di abad ke-19. "May menulis cerita-ceritanya untuk konsumsi lingkungan sekitarnya yang terbukti dengan banyak didapatinya nama-nama tetangganya di karangannya. Tak pernah terlintas di benaknya, kalau suatu saat, buku-bukunya akan melintasi berbagi benua dan zaman," ujar Pandu.

Di luar kesalahan data-data itu, May berhasil untuk membawa pembacanya mengikuti imajinasi liarnya tentang petualangan. Ciri khas petualangannya ini dimotivasi keadaan May yang lahir buta selama empat tahun. Di masa itulah, neneknya banyak menceritakan tentang cerita seribu satu malam. Selain itu, sisi sosiologis Jerman yang berada di pedalaman Eropa, menjadikan masyarakatnya mendambakan dunia luar yang bebas. Kondisi-kondisi inilah yang menuntut May haus akan dunia luar.

Sebenarnya, petualangan ini merupakan pendekatan May dalam mengungkapkan pandangannya tentang manusia. Dalam otobiografinya, ia mengatakan kesamaan dari seri Amerika dan Timur dengan si narator atau pelaku melakukan perjalanan di padang rumput atau padang pasir sebagai lambang kekasaran jiwa manusia. Usai perjalanannya itulah, sang tokoh akan mencapai kesempurnaan jiwa. Penjelasan ini, didapati di saat-saat terakhir May. "Saat itulah May menulis tentang perdamaian yang tercapai di antara semua tokoh di Winnetou," ujar Pandu menandaskan.

Sayangnya perdamaian di akhir hayat May ini tak dibarengi dengan damainya kontroversi yang tetap beredar seputar karya-karyanya. Setelah ia meninggal, banyak karyanya diselewengkan. Misalnya, di buku Winnetou I, tercatat tidak kurang dari 33.000 kata telah berubah yang terjadi sejak 1913 sampai 1980-an. Nama tokoh juga banyak berubah seiring dengan penambahan kalimat dan perubahan jalan cerita. Ini semakin menjadi-jadi saat Jerman di bawah pemerintahan Nazi. Bahkan, menurut cerita Pandu, Adolf Hitler di masa itu banyak mencetak buku-buku Karl May yang sudah diselewengkan kepada pasukannya. "Ia bahkan mengaku kalau strategi perangnya berasal dari Karl May," ujar Pandu.

Penyelewengan ini semakin diperburuk dengan kasus perkawinannya dengan istri pertamanya. Setelah bercerai, istrinya inilah yang membakar draf naskah May di periode awal yang kala itu banyak dipergunjingkan orang karena memuat cerita-cerita tak senonoh.

Kini setelah diterjemahkan ke lebih dari 35 negara dan lebih dari 125 juta copy terjual di Jerman, ternyata karya May tak dikenal di negara yang berbahasa Inggris, termasuk Amerika yang banyak tampil di sepertiga cerita petualangannya. "Untunglah kita bisa membacanya berkat penjajah Belanda yang membawa karya-karya May," kata Pandu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar